Ibnu Araby dan Al Ghazaly

Oleh : Ahmad Qiram As-suvi & Izzuddin Sulthan Nashir

          A.    BIOGRAFI

           1. Profil Singkat Ibnu Arabi: Pemikir Mistis yang Mengguncang Tradisi

Ibnu Arabi adalah salah satu tokoh besar dalam tradisi mistik Islam yang pengaruhnya membentang jauh melampaui zamannya. Annemarie Schimmel, seorang cendekiawan terkemuka dalam studi tasawuf, menggambarkan bahwa pemikiran Ibnu Arabi menjadi puncak dari berbagai teori mistik pasca abad ke-13. Keberanian Ibnu Arabi dalam merumuskan gagasan-gagasan metafisis yang mendalam menjadikannya sosok yang kerap diserang, terutama oleh kalangan ortodoks yang lebih mengedepankan pendekatan skriptural dan eksoteris. Mereka menilai pandangan-pandangan Ibnu Arabi sebagai sesuatu yang menyimpang dari batasan-batasan doktrin yang ketat.

Penolakan terhadap Ibnu Arabi bukan hanya datang dari kalangan umum, namun juga dari tokoh besar seperti Ibnu Taimiyah. Pada awalnya, Ibnu Taimiyah secara tegas menuduh Ibnu Arabi sesat bahkan sampai mengkafirkannya. Namun, seiring berjalannya waktu, proses dialektika intelektual membawa perubahan. Setelah mendapatkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna-makna metaforis yang digunakan oleh Ibnu Arabi — melalui ulasan Taqiyuddin Ibnu Athaillah al-Sakandari al-Syadzili — pandangan Ibnu Taimiyah mulai melunak. Kesalahpahaman terhadap simbolisme dan bahasa metaforis yang kaya dalam karya-karya Ibnu Arabi perlahan terurai, menunjukkan bahwa tuduhan kesesatan tersebut lebih banyak bersumber dari kegagalan memahami kedalaman pesan-pesan simboliknya.

Lahir dengan nama lengkap Muhammad Ibnu ‘Ali Ibnu Muhammad Ibnu al-Arabi al-Tai al-Hatimi, Ibnu Arabi menghirup udara dunia pada tanggal 27 Ramadhan 560 H, atau bertepatan dengan 17 Agustus 1165 M, di kota Murcia, Spanyol. Kecintaan terhadap ilmu telah mendarah daging dalam keluarganya, membentuk karakter intelektualnya sejak usia dini. Pada usia 8 tahun, Ibnu Arabi sudah merantau ke Lisbon untuk berguru kepada Syekh Abu Bakar Ibn Khallaf, mendalami berbagai disiplin ilmu seperti al-Qur'an, hadis, hukum Islam, kalam, filsafat, dan bidang-bidang keilmuan lainnya.

Perjalanan intelektualnya kian kaya berkat dukungan sang istri, Maryam, yang mendorongnya untuk istiqamah dalam dunia tasawuf. Pada usia 20 tahun — sekitar tahun 580 H atau 1184 M — Ibnu Arabi secara formal mengikrarkan dirinya sebagai seorang sufi. Keputusan ini menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan spiritual dan intelektualnya di kemudian hari. 

Dalam dunia literasi, Ibnu Arabi meninggalkan warisan yang luar biasa. Dua karya monumentalnya, Futuhat al-Makiyyah dan Fusush al-Hikam, dianggap sebagai puncak ekspresi pemikirannya. Melalui karya-karya ini, Ibnu Arabi tidak hanya mengurai kompleksitas dunia tasawuf dan ketuhanan, tetapi juga memberikan kontribusi besar pada perkembangan ilmu-ilmu keislaman secara umum.

1.     2. Riwayat Hidup dan Perjalanan Intelektual: Al-Ghazali

Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada tahun 450 H dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sebutan “Al-Ghazaly” sendiri itu karena beliau menjadi anak angkat dari seorang penenun yang dalam Bahasa arab menenun itu “غزل-يغزل”. Al-Ghazali pun cukup beruntung karena berada di wilayah yang ditinggali para penyair, penulis, dan ahli agama Islam. Riwayat intelektualitas Al-Ghazaly di semasa hidupnya bisa di bilang memiliki plot twists karena perjalanan intelektualitas Al-Ghazaly yang awalnya rasionalis murni menjadi mistis.

Semasa saat dia telah menjadi anak angkat. Al ghazaly muda mendapatkan Pendidikan islam langsung dari ayahnya yang adalah seorang tokoh di daerah itu. Ayahnya tergolong orang yang shaleh dan hidup secera sederhana. Kesederhanaanya tergambar dari sikap yang tidak mau makan kecuali atas cirih payah sendiri. Ayahnya pada waktu senggang sering berkesempatan berdialog dengan ulama dalam majelis-majelis pengajian. Ia amat pemurah dalam memberikan sesuatu yang dimiliki kepada ulama yang didatangi sebagai rasa simpatik dan terima kasih. Sebagai orang yang dekat dan menyenangi ulama’, ia berharap anaknya kelak mejadi ulama’ yang ahli ilmu dam berhikmah.

selain mendapat bimbingan dari ayahangkatnya, Al ghazaly muda dibimbing pula oleh seorang sufi kenalan dekat ayahnya. Disamping mempelajari ilmu tasawuf dan mengenal kehidupan sufi, beliau juga mendapat bimbingan studi al-Qur’an dan hadits, serta menghafal syair-syair. Ketika sufi pengasuh Al- Ghazali merasa sudah tidak menhetahui mau mengajarkan apa lagi dalam membekali ilmu dan kebutuhan hidupnya, ia dianjurkan untuk memasuki salah satu sekolah di Thus dengan beasiswa.

Pengembaraan Al-Ghazali dimulai pada usia 15 tahun. Pada usia ini, Al- Ghazali pergi ke Jurjan untuk berguru pada Abu Nasr al-Isma’ili. Pada usia mungkin 19 atau 20 tahun, Al-Ghazali pergi ke Naisabur, dan berguru pada al-Juwayni hingga ia berusia 28 tahun. Selama di madrasah Naisabur ini, Al-Ghazali mempelajari banyak sekali ilmu dari gurunya Al Juwaini di antaranya ialah teologi, hukum, dan filsafat. Sepeninggal Al-Juwayni, Al Ghazali pergi ke kota Mu’askar yang ketika itu menjadi gudang para sarjana disinilah beliau berjumpa dengan Nidzam al-Mulk. Kehadiran Al Ghazali disambut baik oleh sang Wazir, dan sudah bisa dipastikan bahwa oleh karena kedalaman ilmunya, semua peserta mengakui kehebatan dan keunggulannya. Dengan demikian, jadilah al-Ghazali “Imam” di wilayah Khurasan ketika itu. Beliau tinggal di kota Mu’askar ini hingga berumur 34 tahun. Melihat kepakaran Al Ghazali dalam bidang fiqih, teologi, dan filsafat, maka Wazir Nidzam al-Mulk mengangkatnya menjadi “guru besar” teologi dan “rector” di madrasah Nizamiyyah di Baghdad, yang telah didirikan pada 1065. Pengangkatan itu terjadi pada 484/Juli 1091. Jadi, saat menjadi guru besar (profesor), al-Ghazali baru berusia 34 tahun.

B.    KONSEP ATAU PEMIKIRAN UTAMA

1.     Ulasan Singkat Konsep Wahdatul Wujud dalam Pemikiran Ibnu Arabi

Wahdatul wujud adalah ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi, yang berarti "kesatuan wujud." Pada intinya, hanya Allah yang memiliki keberadaan sejati, sedangkan semua makhluk hanyalah manifestasi atau penampakan dari Wujud-Nya.

Meskipun alam terlihat penuh keberagaman, Ibnu Arabi menekankan bahwa perbedaan makhluk itu hanyalah ta'ayyunat (penentuan bentuk) dari satu Wujud, bukan perbedaan pada Dzat Tuhan itu sendiri. Hubungan antara Tuhan dan makhluk diibaratkan seperti cermin dan bayangannya, makhluk adalah pantulan dari sifat-sifat Ilahi. Konsep tajalli (penampakan sifat-sifat Tuhan) menjadi kunci dalam memahami keberadaan alam semesta. Tuhan yang pada asalnya "tersembunyi" menampakkan diri-Nya melalui penciptaan, agar makhluk mengenal-Nya. Karena itu, merenungi ciptaan menjadi jalan utama untuk mengenal Allah, tanpa perlu berusaha memahami Dzat-Nya yang Maha Transenden.

Wahdatul wujud sering disalahpahami sebagai panteisme, tetapi Ibnu Arabi membedakan: makhluk bukanlah Tuhan, melainkan cermin dari-Nya. Kesatuan yang ia maksud bersifat batiniah dan spiritual, bukan kesatuan substansi.Haidar Bagir menambahkan bahwa wujud (وجد) dalam bahasa Arab berarti "menemukan." Maka, wujud adalah kesadaran atas keberadaan. Tuhan, sebagai Wujud Mutlak, adalah kesadaran sempurna, dan dari kesadaran inilah mengalir seluruh realitas melalui proses emanasi.

Akhirnya, konsep wahdatul wujud mengajarkan bahwa semua yang ada di alam ini adalah tanda-tanda yang menunjuk kepada Allah, dan tugas manusia adalah menyadari kehadiran Tuhan di balik segala sesuatu.

2.  Fase Rasionalis Murni Al-Ghazali

Pada mulanya Al ghazaly itu seorang rasionalis ulung. Karyatulis beliau saat periode awal mejadi rektor berjudul “مقاصد الفلسفة” tujuan filsafat. Dalam perjalanannya Al ghazaly tidak hanya mengajar akan tetapi beliau aktif juga mengkritik pemikiran-pemikiran filsuf yang di rasa bagi dia sudah keluar dari tiang-tiang islam. Seperti Ibn Sina dan Al faraby yang mengatakan bahwa alam ini bersifat qadim “takbermula” dan baqok “abadi”. Dari sini memprakarsai Al ghazaly menulis “تحافت الفلاسفة” fallasynya para filsuf. Di buku itu banyak sekali tema yang Al ghazaly angkat guna membantah para filsuf.

Tidak hanya hanya di situ. Perjalanan Al ghazaly selain membantah para filsuf ia juga membantah para teolog yang beraliran mu’tazilah meliau membela madzhab ahlussunnah dengan menulis kitab “قواعد العقاعد” kaidah-kaidah aqidah. Buku itu adalah teologi yang Al Ghazaly telah pelajari selama dengan gurunya Al Juwaini lalu di transformasikan dengan menambahi syarah dan disusun secara tersistematis. Di dalam perdebatan yang sengit itu muncul sebuat idie yang menetapkan awal mula ide gagasannya dengan ber awalkan dengan menulis “الاقتصاد في الاعتقاد” moderasi dalam aqidah, yang menjadi penyempurnya buku “قواعد العقاعد” yang ia tulis sebelumnya.

1.                3. Fase Transisi dan Kesadaran Akan Tidak Cukup Hanya Menggunakan Akal. 

Saat mencapai segala hal dalam hidupnya Al Ghazaly merasa ada yang kurang karena capaian akalnya dan selama ini upayanya tidak bisa mencapai kondisi ulama-ulama terdahulu utamanya Rosullullah. Al Ghazaly merasa agama ini kok hanya formalitas saja, seperti ketika solat orang itu hanya memerhatikan kalo dia sudah sesuai dengan aturan dan tidak ada kesalahan dalam solatnya. Fiqih hanya menjadi persyaratan untuk dapat jabatan saja, ilmu kalam di pelajari hanya untuk memenangkan debat dan lain sebagainya. Di sinilah letak Al Ghazaly merasa gundah, cemas dan tidak nyaman sehingga beliau memulai perjalanannya dengan di awali melepas jabatan rektor yang di sandang.

Sebelumnya, sebelum Al Ghazaly terfikir untuk mengasingkan diri ia menulis dan mencurahkan semua kegundahannya dalam satu buku yang ininya pengkritisan atas setiap fan-ilmu buku itu berjudul “المنقذ من الضلال” penyelamat kesesatan, isi dari kitab ini secara garis besar adalah epistimologi kemajuan rohani, dan nanti dari setiap permasalahan itu memiliki maqam (tempat) tertentu, yang paling bawah ada jasmaniah, keatas lagi ada nafsiah, naik lagi ada qolbiah dan yang tertinggi ada ruhiyyah. Kitab inilah yang menjadi kunci kitab setelahnya saat Al Ghazaly mengasingkan diri pergi umroh melewati Damaskus, Yerussalem, Hijaz (untuk umroh) lanjut, dan Thus kampung halamannya dan menyempurnakan kitab “احياء علوم الدين” menghidupkan kembali agama, yang isinya antara lain adalah pedoman-pedoman aqidah, fiqh dan tasawwuf.

Pesan besar yang dibawakan oleh Al Ghazaly dalam “احياء علوم الدين” ialah setiap fan-ilmu utamanya yang menjadi bahasan utama di Al-Quran itu harus dilaksanakan dalam 3 aspek:

1) Aspek Aqidah: Dalam aspek ini seseorang yang sudah berikrar tiada tuhan selain Allah, haruslah mengenali tuhannya. Dengan mengenali tuhannya dia nantinya akan memiliki niat yang kuat untuk menjalani hidup, belajar, berfikir, bertoleransi dan lain sebagainya.

2) Aspek Fiqh: Dalam aspek ini seseorang yang sedang membangun aqidahnya di peruncing intuisinya baik sisi melalui akal ataupun moralnya. Dalam fiqih ini seorang muslim akan belajar untuk berinteraksi soleh, baik hubungan antar sesama makhluq ataupun kepada Allah SWT.

3) Aspek Tasawwuf: Dengan telah mengenali dan telah memahami agamanya lalu di sempurnakan dengan tasawwuf ini yaitu menghadirkan Allah dalam setiap gerak-gerik perbuatan hingga sampai ketitik fana, bukan lagi berupaya menghadirkan Allah akan tetapi Allah pasti akan selalu hadir menyertai dan membimbing langsung di dalam ke kasyafannya.

Ketiga aspek di atas itu harus berhubungan secara holistik, jika tidak maka agama Allah akan mati, hanya akan di suarakan saja oleh lisan dan menjadi seremonial serta formalitas belaka.


Sumber Bacaan:

  1. Arabi, Ibn, Fusus al-Hikam, Terj. R.W.J. Austin,The Bezels of  Wisdom The Missionary Society of St. Paul the Apostle in the  State of New York, Yogyakarta: Islamika, 2004.
  2. Bagir, Haidar, Epistemologi Tasawuf: Sebuah Pengantar, Bandung:  Mizan, 2017
  3. Schimmmell, Annemarie, Dimensi Mistik dalam Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.
  4. Muktasor Ihya ulumu ad-din
  5. Tahafutul Falasifah
  6. Al-Ittisod fi al-I’tiqod
  7. Al-Munqidzu mina al-dholal








Komentar

Postingan Populer