Khulafaur Rasyidin
Oleh : Faisal Najib
KHALIFAH ABU BAKAR SHIDDIQ (11-13 H/632-634 M)
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu khalifah terbaik dalam sejarah kepemimpinan Islam dan memiliki banyak teladan kepemimpinan yang patut dicontoh. Abu Bakar AshShiddiq ialah seseorang yang pertama kali membenarkan kenabian Rasulullah dan tidak pernah ragu dalam membela Islam. Ketika akan wafat Nabi Muhammad tidak berwasiat apa apa, baik kepada karibnya atau kepada sahabat-sahabat yang lain, prihal siapa yang menjadi khalifah penggantinya. Persoalan besar ini belau serahkan kepada umat Islam.
Ketika diangkat menjadi Khalifah Abu Bakar berkata; “wahai manusia! Aku telah diangkat menjadi pemimpin diantara kalian, aku bukan orang terbaik diantara kalian. Jika aku berbuat baik bantulah aku. Jika aku berbuat salah, luruskan lah aku”.
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat tertua Nabi yang amat luas pengalamannya, dan amat besar ghirahnya kepada Agama Islam. Dia adalah bangsawan Quraisy. Yang berkedudukan tinggi di kaumnya. Dikala Nabi masih hidup jabatannya ialah ahli nasab Arab dan ahli hukum yang jujur. Ialah yang menemani Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, dan merasakan pahit getirnya hidup bersama Rasulullah SAW hingga wafatnya.
Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah ada beberapa tantangan yang beliau hadapi yakni menhgadapi pembangkang zakat, menghadapi nabi palsu, dan memerang orang-orang murtad. Berita wafatnya Rasulullah SAW yang memicu terjadinya pemberontakan. Keberanian dalam mempertahankan Syariat slam menjadi teladan menjadi pemimpin agar tidak goyah dalam menghadapi tantangan.
Masa kepemimpinan abu bakar terjadi perluasan wilayah yaitu pembebasan wilayah Syam dan Palestina. Khalifah Abu Bakar mempersiapkan pasukannya untuk membebaskan beberapa Negri, demi memperluas syariat Islam. Langkahnya juga memalingkan perselisihan antara umat Islam.
Seiring kemenangan yang diperoleh abu bakas shiddiq timbul kecemasan umar bin khatab akan kehilangan beberapa ayat dalam Al-qur’an, karena banyaknya huffadz (penghafal al-qur’an) yang syahid dalam peperangan. Maka umar menyarankan abu bakar untuk mengumpulkan kembali ayat-ayat Al-qur’an. Khalifah abu bakar sepakat. Maka dikumpulkanlah lembaran-lembaran yang semula ditulis di atas batu, kulit hewan, tulangbelulang, dan pelepah korma dalam satu mushaf.
Ketika api peperangan arab dan romawi sedang berkecamuk sehebat-hebatnya, datanglah berita dari madinah bahwa khalifah abu bakar wafat. Beliau meninggal pada tanggal 23 agustus 634 M di madina karna sakit yang dideritanya pada usia 63 tahun.
KHALIFAH UMAR BIN KHATHAB (13-23 H/634-644 M)
Setelah wafatnya khalifah Abu Bakar digantikan oleh Umar Bin Khathab. Proses pengangkatan Umar tidak sama seperti pendahulunya. Umar diangkat dengan proses penunjukan oleh Khalifah Abu Bakar di masa hidupnya dan mendapat persetujuan dari para sahabat besar. Hal itu dilakukan untuk menghindari pertikaian politik antara umat Islam.
Umar bin Khathab bernama lengkap Umar bin Khathab bin Nufail bin abdul Uzza, berasal dari Bani Adi bin Ka’ab. Sebelum masuk islam beliau sangat memusuhi islam, dan banyak menyiksa kaum muslimin. Ia masuk islam ketika tahun ke-6 kenabinan. Hidup 35 tahun di masa Jahiliyah dan hidup 30 dalam pangkuan Islam.
Umar bin Khattab adalah salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah Islam. Kepemimpinannya penuh dengan teladan yang patut dicontoh, terutama dalam hal keadilan, ketegasan, dan kepedulian terhadap rakyat. Umar dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Ia tidak membiarkan siapapun, termasuk keluarganya sendiri, mendapatkan perlakuan istimewa. Ia pernah berkata: "Jika ada yang mencuri, meskipun anakku sendiri, aku akan potong tangannya."
Keadilan ini membuat rakyat merasa aman dan percaya kepada pemimpinnya. Sebagai khalifah, Umar tidak hidup mewah. Ia hanya memiliki pakaian sederhana dan sering tidur di atas tanah tanpa alas. Bahkan, saat bepergian, ia sering bergantian naik unta dengan pelayannya. Umar sering menyamar di malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Ia pernah menemukan seorang ibu yang memasak batu karena tidak punya makanan untuk anaknya. Melihat itu, Umar sendiri mengangkat gandum dari gudang negara dan mengantarkannya kepada wanita tersebut tanpa memberitahu bahwa ia adalah khalifah.
Selama pemerintahannya, Umar berhasil memperluas wilayah Islam. Peperangan banyak dilakukan terhadap negri-negri di bawah kekuasaan imperium romawi dan persia, diantaranya: Perang Yarmuk, pertempuran di Ajnadain, Qadisiyah, Nahawand, Irak, Persia, Mesir, dan penaklukan Baitul Maqdis.
Buah dari pembebasan negri sekitar pada zaman Khalifah Umar Bin Khathab ialah luasnya daerah kakuasaan Islamiyah. Sebagian besar kerajaan persia dan kerajaan Romawi Timur jatuh ke tangan Islam. Oleh karena itu untuk mengatur Negara yang begitu luas dan banyak urusan serta meratakan keadilan di seluruh pelosok Negeri, perlu adanya perbaikan dalam pengelolaan pemerintahan yaitu:
- Pembagian daerah pemerintahaan
- Wali (Gubernur) sebagai kepala pemerintah daerah
- Menyusun dewan-dewan (daftar keluar dan masuknya uang)
- Urusan kehakiman
Pada masa Umar Bin Khathab umat Islam telah merebut seluruh imperium Romawi dan Persia di Benua Asia dan Afrika. Lantas beliau melakukan perbaikan dan inovasi administrasi, menetapkan kalender Hijriah, membentuk kantor-kantor pemerintahan dan militer serta memperluas Masjidil Haram. Ketika Umar Bin Khathab sedang berusaha keras mengatur urusan dalam Daulah Islamiah bencana datang menimpa umat Islam. Sang Khalifah menemui ajal karena dibunuh.
Abu lu’luah seorang hamba sahaya berasal dari bangsa Persia. Tawanan perang di Hanawand. Ia amat dengki dan sakit hati terhadap Khalifah Umar yang dianggap sebagai lenyapnya kerajaan persia dari muka bumi. Maka ia menikam khalifah umar ketika menunaikan sholat subuh. Umar bin khathab wafat pada bulan Dzulhijjah, tahun 23 H/644 M, dalam usia 63 tahun setelah 10 tahun 6 bulan memerintah Daulah Islam.
KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN (23-35 H/644-656 M)
Ketika merasa ajalnya sudah dekat Umar bin khathab menunjuk enam sahabat pilihan yang menjadi dewan syura di zamannya. Seorang salah sahabat itu dipilih, dan mereka yang mendapatkan suara terbanyak diangkat menjadi Khalifah. Mereka ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Setelah Umar wafat tim Formatur mengadakan rapat. Empat dari mereka mengundurkan diri dari pencalonan Khalifah hingga tersisa dua, yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Akhirnya setelah sesuai hasil kesepakatan dan persetujuan, maka pilihan jatuh ke tangan Utsman bin Affan r.a. Maka, diangakatlah beliau di usia 70 tahun, dan menjadi khalifah selama 12 tahun.
Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga dalam Islam yang dikenal dengan kelembutan, kedermawanan, dan kebijaksanaannya dalam memimpin. Utsman dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah yang paling dermawan. Ia sering menyumbangkan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Salah satu contohnya ialah Membeli sumur Rumah dari seorang Yahudi dan menjadikannya fasilitas umum agar rakyat bisa mendapatkan air secara gratis. Menyumbang 1.000 dinar, 100 ekor unta, dan perlengkapan perang bagi pasukan dalam Perang Tabuk.
Salah satu jasa terbesar Utsman adalah mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an dalam satu mushaf standar. Ia mengirimkan mushaf-mushaf ini ke berbagai daerah untuk menjaga keaslian bacaan Al-Qur'an. Keputusan ini menunjukkan kebijaksanaan dan kepeduliannya terhadap kelestarian ajaran Islam.
Di zaman Khalifah Utsman bin Affan daerah wilayah islam bertambah luas, seluruh tanah Persia sampai di Tebristan, Azerbaijan, dan Armenia. Di zamannya pula, armada Islam mula-mula di bangun atas anjuran dan usaha Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang ketika itu menjadi Gubernur Syam. Armada itu sengaja digunakan untuk menyerang Byzantium. Dengan angkatan laut itulah Mu’awiyah menaklukan Asia kecil dan pesisir Laut Hitam, serta menduduki pulau Cyprus dan Rhodus.
Untuk memperkuat pemerintahannya Utsman bin Affan mengangkat para wali dari kerabatnya, karena kepercayaan Utsman kepada mereka lebih besar dari pada yang bukan kerabatnya. Harapan dari kebijakan ini ialah agar kekhalifaan Islam lebih kuat, dan menghindari perpecahan.
Di akhir masa kepemimpinannya, Utsman menghadapi banyak fitnah dan pemberontakan. Meskipun difitnah dan dikepung di rumahnya selama berminggu-minggu, beliau tetap bersabar dan menolak menggunakan kekerasan untuk melawan umat Islam yang terprovokasi. Sikap ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus tetap tenang dan mengedepankan perdamaian. Utsman banyak membangun infrastruktur seperti jalan, masjid, dan sistem irigasi untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Ia juga memastikan kesejahteraan pegawai pemerintah dengan memberikan gaji yang layak agar tidak terjadi korupsi. Kepemimpinan Utsman bin Affan adalah contoh luar biasa tentang kedermawanan, kebijaksanaan, kesabaran, dan kepedulian terhadap umat.
Kaum pemberontak mengepung kediaman Utsman selama 40 hari. Beberapa sahabat mengirim putranya untuk melindungi jiwa Utsman. Sebagian mereka memasuki kediaman Utsman bin Affan, memukul dengan pedang hingga membawa kematiannya, serta merampas hartanya. Peristiwa ini terjadi pada 17 Juni 656/18 Dzulhijjah 35 H.
KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB (35-40 H/656-661 M)
Sejak muda, Ali dikenal sebagai sosok yang pemberani. Ia selalu berada di barisan depan dalam perjuangan Islam. Saat Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, ia menunjukkan keberanian luar biasa dalam mempertahankan Islam. Keberanian ini juga tercermin dalam kepemimpinannya, di mana ia tidak takut menghadapi tantangan dan fitnah yang muncul di masanya. Ali sangat tegas dalam menegakkan keadilan, bahkan jika itu merugikan dirinya sendiri atau orang dekatnya. Ia pernah menegur pejabatnya yang korup dan tidak segan mencopot mereka dari jabatan. Prinsip keadilannya ini sesuai dengan ucapannya: “Janganlah kamu melihat siapa yang berbicara, tetapi lihatlah apa yang dikatakannya." Ali adalah salah satu sahabat Rasulullah yang paling berilmu. Beliau sering memberikan solusi bijaksana dalam menyelesaikan masalah umat. Rasulullah pernah bersabda: "Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya."
Setelah Khalifah Utsman wafat, sebagian kaum muslimin mendatangi Ali bin Abi Thalib, dan membaiat beliau sebelum jenazah Utsman dimakamkan. Pada awalnya Ali menolak. Beliau menghindar ke rumah Bani Amru bin Mabdzul, orang Anshar dan menutup pintu rumah karena menolak menerima jabatan Khalifah. Namun mereka terus mendesak dan mengetuk pintu. Di antara mereka ada Tholhah dan Zubair, seraya mengatakan: ”sesungguhnya daulah ini tidak akan bertahan tanpa seorang pemimpin”. Akhirnya Ali bersedia menerimanya.
Setelah Utsman wafat, dan orang-orang Madinah membaiat Ali sebagai Khalifah, sebagian kaum muslim memandang kurang lazim, karena pada saat itu Madinah dikuasai oleh kaum pemberontak. Sementara, hanya sebagian kecil yang berada di Madinah. Menurut pendapat Ali, Gubernur yang diangkat oleh Khalifah Utsman tidak layak dan tidak cakap mengurus masalah umat Islam. Walaupun kedudukannya sebagai Khalifah belum kuat dan kokoh, niatnya tetap akan mencopot gubernur itu. Beberapa sahabat meminta Ali untuk mengurungkat niatnya. Akan tetapi, Ali tidak menghiraukan. Meningat siasat Ali yang demikian umat Islam retak menjadi tiga golongan, yaitu golongan pendukung Ali, golongan yang menuntut kematian Utsman (dipimpin oleh Mu’awiyah), dan golongan yang tidak sepakat dengan tuntutan Mu’awiyah dan tidak setuju pula dengan pengangkatan Ali.
Sebagai pemimpin, Ali mengutamakan musyawarah dan berpikir mendalam sebelum mengambil keputusan. Meskipun menjadi khalifah, Ali hidup dengan sangat sederhana. Ia tidak menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Pakaiannya sederhana, makanannya pun hanya roti dan garam. Masa kepemimpinan Ali penuh dengan ujian, termasuk perang saudara seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin. Meskipun banyak pihak yang memusuhinya, ia tetap bersabar dan tidak pernah membalas dengan kezaliman. Ali selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya. Ia sering turun langsung untuk membantu mereka, bahkan bekerja sendiri untuk mengairi kebun-kebun dan membagikan hasilnya kepada fakir miskin. Meskipun menghadapi banyak perpecahan politik, Ali selalu berusaha menjaga persatuan umat Islam. Ia lebih memilih berdamai daripada memaksakan kehendaknya dengan kekerasan, selama tidak bertentangan dengan prinsip kebenaran.
Pergolakan perpecahan umat Islam di zaman pemerintahan Ali mengakibatkan terjadinya perang saudara. Sementara itu tiga orang dari kelompok Khawarij1 telah mengadakan pemufakatan jahat, akan membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amru bin Ash. Menurut mereka tiga orang inilah yang menjadi penyebab perpecahan umat Islam. Ketiga kelompok Khawarij itu adalah Ibnu Muljam akan membunuh Ali, Al-barak akan membunuh Mu’awiyah, dan Umar bin Bakir, akan membunuh amru bin Ash. Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali, pada tanggal 17 Ramadhan 40 H/661 M, ditikam dengan pedang beracun, di dalam masjid kufah pada saat menunaikan shalat Subuh. Sedangkan dua orang yang lain tidak berhasil.
Meskipun kepemimpinan Ali penuh dengan ujian, ia tetap dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, dan berpegang teguh pada prinsip kebenaran. Perpecahan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor politik dan ambisi kekuasaan, bukan karena ajaran Islam itu sendiri.
Sebagian pasukan Ali kecewa dengan keputusan arbitrase dalam Perang Shiffin dan keluar dari barisannya. Mereka dikenal sebagai Khawarij, kelompok yang sangat keras dalam memahami Islam. Kelompok ini kemudian memberontak dan Ali harus memerangi mereka dalam Perang Nahrawan.
Komentar
Posting Komentar