Integrasi kepemimpinan muslim dan Pemikiran cendikiawan muslim dalam menjalankan Perjuangan HMI
Oleh : Alvero Ferdiansyah, S.H
1. Konsep Kepemimpinan Muslim dalam Perspektif Modern
Secara
bahasa kepemimpinan diambil dari kata pimpin yang memiliki esensi dalam
memberikan pengaruh, bimbingan, dan menuntun. Serta definisi kempemimpina yaitu
kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan.
Adapun menurut para pakar yang lain menyebutkan.
- Kepemimpinan adalah pembangunan komunikasi
dan motivasi untuk mendorong semangat bawahan agar bertindak secara maksimal
untuk mencapai suatu tujuan.
- Kepemimpinan merupakan suatu proses
yang kompleks di mana seorang pemimpin mempengaruhi bawahannya dalam
melaksanakan dan mencapai visi dan misi, dan tugas atau objek-objek yang
membawa organisasi menjadi lebih maju dan bersatu.
Dan
ada juga yang berdasarkan sifat – sifat kepemimpinan nabi yang dalam konteks
ini masuk dalam gaya kepemimpinan prophetic
yang berarti dalam bahasa inggris prophet yaitu nabi. Karakter ini dipecah
dari sifat nabi dalam memimpin seperti.
- Shiddiq
- Amanah
- Fathonah
- Tabligh
Yang
pada pengartian nya dibantu oleh kuntowidjoyo dalam mengartikan pada 3 hal
yaitu.
- Transendensi ialah memiliki hubungan
yang kuat antara pencipta dan hamba.
- Humanisasi adalah rasa kemanusiaan yang
tinggi.
- Liberasi yaitu kebebasan dan kemuliaan
menjadi muara akhir.
Lalu
apabila kita korelasikan pada diri kader dimasa kini maka kader harus mencakup
3 hal diatas bahwa memimpin suatu organisasi harus memiliki keimanan kuat serta
rasa kemanusaiaan dan kebebasan yang luas. Karena hal tersebut sangat bisa
dilaksanakan oleh kader HMI dilingkup organisasi yang dimana itu akan sangat
bermanfaat dalam penjalanan aktifitas organisasi. Contohnya pemasalahan teknologi
hari ini kader HMI seharusnta tidak perlu repot dan sulit lagi dalam
menyesuaikan seperti penggunaan social media, penerapan system digital
elektronik dan lain sebagainya karena kader HMI sendiri sudah memulai babak
baru dalam lingkup perkaderan. Hal ini akan menjadi masalah besar bagi anggota
organisasi apabila tidak segera menyesuaikan dengan zaman karena HMI sudah
berdiri 78 tahun yang sudah tergolong cukup tua dalam ukuran suatu organisasi
mahasiswa.
2. Peran dan Pemikiran Cendekiawan Muslim
Bagi
Al – Ghazali dalam kitab ciptaan nya Ihya
Ulumuddin syarat menjadi seorang pemimpin ialah :
- Adil dan bijaksanaan
- Berilmu, terutama dalam hal agama
- Berakhlak mulia
- Memiliki keberanian dan ketegasan
- Mampu menjaga maslahat umat
Dalam
syarat yang telah diberikan melibatkan mengenai 3 hal diatas yaitu unsur
transendensi hubungan antara hamba dan penciptanya, serta nilai – nilai
kemanusaan yang tidak boleh dilepas, dan kebebasan yang memuliakan. Adapun cendikiawan
yang memiliki yaitu Nurcholish Madjid menyatakan bahwa kepemimpinan itu amanah bukan warisan yang berarti
jabatan ya diberi dan kewenangan yang ada itu adalah amanah suci dan harus
dijalani denganh niat – niat mulia tanpa menyingkirkan nilai – nilai spiritual.
Adapun pendapat lainnya mengenai etika kepemimpinan yaitu :
- Amanah (dapat dipercaya)
- Adil
- Berilmu dan rasional
- Melayani rakyat, bukan dilayani
Banyak
sekali cendikiawan muslim yang berpendapat mengenai kepemimpinan akan tetapi
kesimpulan dari pendapat tersebut ialah pada kemaslahatan bersama yang harus
dicapai dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
3. Integrasi
Kepemimpinan dan Keintelektualan dalam Konteks HMI
Kepemimpinan dan intelektual sudah dibahas diatas bahwa memiliki kelekatan yang kuat karena seorang pemimpin diharuskan mempunyai kemampuan intelektual dan dilihat pula dalam tipe kepemimpinan yang akhirnya menyesuaikan kemampuan intelektual yang harus dimiliki.
A. Tipe kepemimpinan otoriter mengindikasikan bahwa para bawahan wajib mengikuti dan menjalankan semua kebijakan yang diambil secara sepihak oleh pemimpin. Jika pemimpin telah mengambil sebuah keputusan untuk organisasi, para bawahan tidak diperbolehkan memberikan bahkan sekedar masukan dan saran. Kepemimpinan otoriter berkaitan dengan segala bentuk kekuasaan, keputusan, ruang gerak bawahan, kinerja dan motivasi kerja berasal dari seorang pemimpin. Dalam tipe kepemimpinan ini kemampuan intelektual harus berimbang dengan perhitungan mengenai konsekuensi yang harus diterima.
B. Tipe Kepemimpinan Paternalistik Seperti hubungan antara anak dan bapak pada umumnya, tipe kepemimpinan paternalistik mengedepankan kasih sayang dan kelembutan dalam melakukan kontak dengan para bawahan. Pemimpin yang menerapkan tipe ini sebisa mungkin memberikan perlindungan terhadap bawahan, sehingga hubungan antar anggota bisa terasa harmonis. Kepemimpinan ini harus memiliki persona pemimpin yang lebih hebat dari anggotanya agar anggota organisasi selalu merasa diayomi.
C. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire Dari tinjauan etimologi, l aissez faire berasal dari bahasa Perancis ( l aissez artinya biarkan, sedangkan faire memiliki arti melakukan). Sehingga tipe kepemimpinan l aissez faire merupakan tipe di mana seorang pemimpin membiarkan bawahannya dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan tugas -tugas yang telah disepakati bersama. Pemimpin dengan tipe ini akan menerima laporan perkembangan pelaksanaan agenda organisasi dari setiap bawahan yang diberikan tugas, di mana laporan perkembangan agenda -agenda tersebut disetorkan secara berkala. Pemimpin dengan gaya kepemimpinan laissez faire menunjukkan perilaku membiarkan bawahannya melakukan tugas tanpa ada pengawasan dari atasan, artinya bawahan diberikan kebebasan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Perlu digarisbawahi bahwa, penerapan sistem l aissez faire perlu mempertimbangkang sejauh mana tingkatan trust yang terbentuk dalam organisasi. Idealnya, pemimpin yang menerapkan sistem laissez faire adalah pemimpin yang sangat memahami budaya organisasi yang dinaungi olehnya, di mana tingkatan trust sumber daya manusia dalam organisasi bersangkutan sudah berada pada level yang tinggi.
Dari tipe – tipe yang ada bahwa
pemimpin yang organisatoris dan pemikir yang ideolog sebenarnya dapat
dikombinasikan dengan baik asalkan mengerti apa yang harus diperjuangkan mulai
dari kepentingan pribadi atau kepentingan umum. Terkadang dalam tubuh HMI sulit
membedakan antara kepentingan tersebut sedangkan proses yang dimiliki oleh
kader HMI sangat luas. Ada beberapa contoh dan banyak peristiwa seperti kader HMI
yang juga memiliki jabatan di kampus dan organisasi yang tidak berlawanan
dengan aturan organisasi. Apakah itu buruk atau baik ? :
- Baik apabila memang sesuai dengan
kebutuhan organisasi dan personal dapat diselaraskan.
- Mementingkan kepentingan umum.
- Tidak memiliki kendala akademik dan
permasalahan kemasyarakatan.
- Hal ini sangat penting bagi HMI karena pada akhirnya yang dapat menyesuaikan keadaan organisasi adalah orang – orang yang berproses di
- Strategi Penguatan Peran Kader sebagai Pemimpin-Intelektual
Dalam strategi penguatan peran kader
harus dimulai pada pendidikan, kondisi anggota, dan sistemn organisasi yang
baik. Itu menjadi landasan kuat mengapa organisasi sebesar HMI tetap memiliki
basis masa yang banyak dan mempunyai regenerasi pemimpin yang berkompeten. Oleh
karena itu penyesuaian dengan zaman dan berani untuk tampil berbeda juga
menjadi landasan penting bagi organisasi untuk berjalan.
Reverensi.
Buku
:
KOMPAS
PERKADERAN HMI KONTEMPORER
KMO
UNTUK MAHASISWA
HMI
CANDRADIMUKA MAHASISWA
Komentar
Posting Komentar